Gadis

Gadis, seorang remaja tanggung yang memiliki banyak harapan namun sering dikecewakan.

Gadis tak pintar tapi pandai menyembunyikan segala sesuatu dalam dirinya terutama luka dan patah hatinya.

Gadis hanya ingin cerita hidupnya tetap berjalan meski batinnya tiap kali menginginkan untuk berhenti.


***


Gadis menatap album foto semasa kecilnya. Ia tersenyum melihat berbagai foto masa kecil miliknya itu. Tersenyum miris lebih tepatnya. Batinnya menertawakan masa kecilnya yang begitu polos dan ceria. Menertawakan masa dimana ia tak tahu kelamnya dunia. Masa dimana ia ingin cepat menjadi remaja dan dewasa dengan pemikiran bahwa itu adalah sebuah kebahagiaan.

Gadis mengelus foto masa kecilnya yang tersenyum lebar. Tatapan matanya penuh kerinduan. Rindu akan sosok lamanya yang perlahan menghilang dari dirinya.

Foto ini adalah foto dimana ia tak tahu kelamnya dunia. Foto dimana ia selalu ingin mempunyai banyak teman, menjadi dewasa, dan hidup bahagia. Polos sekali, bukan?

Tapi Gadis selalu merindukan sisi polosnya itu. Terkadang ia ingin kembali ke masa itu. Bahkan berpikir bahwa sebaiknya ia tak tumbuh menjadi dewasa. Namun memikirkan semua itu hanya kesemuan belaka.

Gadis tak ingin mengakui tapi ia cinta sekaligus benci dengan dirinya sendiri. Aneh, bukan?

Gadis mencintai dirinya sendiri karna segala yang ada padanya adalah sebuah anugerah. Di sisi lain, gadis juga benci dirinya sendiri karna segala yang ada padanya adalah kotor.

Gadis selalu ingin menjadi terang. Tapi cahaya yang ada dalam dirinya berkali-kali pudar. Gadis kesal. Ia tak menginginkan kegelapan, tapi mengapa kegelapan selalu datang kepadanya? Atau justru dirinya yang mendatangi kegelapan?

Gadis tak tahu. Tapi satu hal yang pasti, Gadis ingin berubah.

Tapi masalahnya, Gadis tak tahu caranya berubah. Ia pikir berubah itu semudah diperkatakan. Nyatanya tidak. Setelah lebih dari empat tahun ia ingin berubah, dirinya tetap tak berubah. Tetap sama. Menjadi manusia gagal, kelam, dan kotor.

Gadis juga semakin lama semakin kasar. Emosinya tak terkontrol akibat penyesalan dan keterikatan dunia. Gadis ingin terlepas tapi dirinya sulit menolak segala keterikatan dunia. Keterikatan itu membawa kenikmatan bagi Gadis sejak pertama kali ia melihat dan merasakan.

Gadis ingin mengeluh mengenai masalahnya. Tapi Gadis bingung. Bingung karna masalahnya adalah sebuah kehinaan. Gadis juga takut. Takut karna masalahnya adalah sebuah aib.

Sekitarnya mengenalnya sebagai Gadis yang baik dan ceria yang sangat senang dengan dunia fiksi. Nyatanya tidak. Gadis adalah seorang yang keterikatan dan selalu keterikatan.

Pada akhirnya, Gadis tersesat dan tak menemukan jalan pulang. Tubuhnya terluka akibat duri yang tertancap. Hatinya hancur. Mulutnya tak bisa bersuara bahkan berteriak bebas. Otaknya rusak dan matanya tak bisa melihat keindahan lagi.

Gadis merasa sedih, tapi air matanya tak mau keluar.

Gadis merasa takut, tapi ia tak tahu harus mencari perlindungan kemana.

Gadis ingin pelukan, tapi tak ada satu orang pun yang membuatnya nyaman.

Gadis kesal.

Ia begitu ingin bebas dan terlepas dari segala keterikatan dunia.

Mencoba meminta bantuan pada sekitarnya adalah kesia-siaan. Karna pada akhirnya, hanya dirinya sendiri yang bisa menyelamatkan dan membebaskannya dari segala keterikatan dunia.

Gadis percaya bahwa Tuhan tak pernah tidur dan menunggu dirinya untuk berubah menjadi pribadi yang lebih baik.

Karna suatu hari nanti, Gadis akan bebas dan menjadi terang.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Membohongi diri

Kehidupan Setelah Kematian

Lost My Spark